JAKARTA - Pada tahun 2026, Menteri Koperasi, Ferry Juliantono, menunjukkan komitmennya dalam mendukung koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) yang telah berhasil menembus pasar ekspor.
Dalam acara Anugerah Top 50 Koperasi dan UKM Ekspor, Ferry mengungkapkan pentingnya memperluas pasar bagi koperasi dan UKM yang sudah memiliki kapasitas ekspor.
Ia menyampaikan bahwa pihaknya siap memberikan bantuan untuk memperluas pasar ekspor, namun juga menekankan pentingnya kualitas produk dan sistem yang mendukung kelancaran ekspor.
Ferry juga memaparkan bahwa meskipun sejumlah koperasi dan UKM telah berhasil menembus pasar internasional, terdapat beberapa aspek yang masih perlu diperbaiki, terutama terkait dengan komponen pendukung dalam kegiatan ekspor. Salah satu contoh yang ia berikan adalah mengenai penggunaan karung untuk ekspor kopi.
Ia menjelaskan bahwa meskipun kopi tersebut sudah berhasil menembus pasar ekspor, karung yang digunakan justru diimpor dari negara yang jauh lebih miskin daripada Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ekspor produk utama sudah berjalan baik, masih ada ruang untuk peningkatan di sektor pendukung ekspor.
Ferry menambahkan bahwa Kemenkop juga akan fokus pada pemberdayaan koperasi dan UKM dalam pasar domestik.
Selain itu, ia memastikan bahwa program Koperasi Desa Merah Putih akan menjadi wadah untuk menampung hasil-hasil produk UKM yang sudah siap untuk dipasarkan di dalam negeri.
Ini akan membuka lebih banyak peluang bagi produk-produk lokal untuk berkembang dan mendapat tempat di pasar domestik.
Puluhan UKM dan Koperasi Tembus Pasar Ekspor
Pada kesempatan yang sama, Ferry menyerahkan penghargaan kepada sejumlah koperasi dan UKM yang berhasil mencapai pasar internasional. Dalam ajang anugerah tersebut, sebanyak 50 koperasi dan UKM berhasil mencatatkan prestasi luar biasa dalam dunia ekspor.
Produk-produk yang diekspor meliputi kopi, rempah-rempah, rumput laut, kerajinan tangan, fesyen, hingga produk kuliner. Prestasi ini tidak datang dengan mudah, karena setiap produk harus memenuhi standar mutu internasional dan mampu bersaing dalam pasar global yang sangat ketat.
Menurut Irsyad Muchtar, Pemimpin Peluang Media Group, pencapaian ekspor koperasi dan UKM ini adalah hasil dari kerja keras dan ketekunan dalam memenuhi syarat yang ketat. Prosesnya tidak mudah, tetapi berhasil dicapai berkat komitmen yang tinggi dan kualitas produk yang tidak diragukan lagi.
Kementerian Perdagangan (Kemendag) melaporkan bahwa nilai ekspor produk UKM Indonesia pada tahun 2026 telah mencapai 57,61 juta dollar Amerika Serikat (USD) atau setara dengan Rp 947,4 miliar.
Pentingnya Pembenahan Sistem Ekspor
Meski sejumlah koperasi dan UKM telah berhasil menembus pasar internasional, Ferry mengungkapkan bahwa sistem ekspor Indonesia masih membutuhkan pembenahan lebih lanjut.
Salah satu isu yang disoroti adalah kurangnya dukungan pada komponen pendukung ekspor, seperti pengemasan dan bahan baku yang masih mengandalkan impor.
Oleh karena itu, Kemenkop berencana untuk memperbaiki dan memperkuat sistem ekspor melalui kebijakan yang lebih mendukung kualitas dan kapasitas produk Indonesia di pasar global.
Salah satu contoh yang disebutkan adalah masalah penggunaan karung impor yang digunakan oleh koperasi kopi di Subang. Meskipun produk kopi berhasil menembus pasar ekspor, penggunaan karung impor menjadi sebuah ironi mengingat Indonesia adalah salah satu negara penghasil kopi terbesar di dunia.
Ferry menekankan bahwa perbaikan terhadap sistem ekspor, termasuk penggunaan bahan baku lokal, akan menjadi fokus dalam upaya memperluas pasar ekspor produk Indonesia.
Meningkatkan Peran Koperasi Desa Merah Putih
Selain mendukung ekspor, Ferry juga menekankan pentingnya memperkuat peran koperasi di pasar domestik. Salah satu program yang diharapkan dapat mendukung hal ini adalah Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
Program ini dirancang untuk menampung produk-produk lokal dari koperasi dan UKM yang telah siap dipasarkan di dalam negeri. Dengan adanya KDMP, produk-produk lokal diharapkan bisa lebih mudah diakses oleh masyarakat luas, sekaligus membuka peluang baru bagi koperasi dan UKM untuk berkembang.
Ferry menjamin bahwa koperasi-koperasi yang tergabung dalam KDMP akan mendapatkan prioritas dalam pemasaran produk mereka di seluruh Indonesia. Hal ini akan membuka peluang pasar yang lebih luas bagi produk-produk UKM yang sebelumnya mungkin sulit diterima oleh pasar besar.
Dengan dukungan penuh dari pemerintah, diharapkan program ini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi lokal yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Penerimaan Positif dari Koperasi dan UKM yang Berhasil Ekspor
Para koperasi dan UKM yang menerima penghargaan atas keberhasilannya menembus pasar ekspor juga memberikan respons positif terhadap dukungan yang diberikan oleh Kemenkop.
Koperasi Kriya Inovasi Mandara (KIM) dari Kalimantan Timur, yang mengekspor cocopeat dan cocofiber ke China, Korea Selatan, Jepang, dan AS, mengungkapkan bahwa mereka merasa didorong untuk terus meningkatkan kapasitas produksi mereka.
Begitu juga dengan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Sidomulyo, yang mengekspor kopi robusta dan arabika ke beberapa negara, termasuk Mesir, Singapura, Brunei, dan Hong Kong.
Sementara itu, UKM seperti CV Domba Tri Tunggal dari Bali, yang mengekspor biji kopi premium ke China, juga merasa mendapat manfaat besar dari dukungan yang diberikan pemerintah. Mereka merasa lebih termotivasi untuk terus memperbaiki kualitas produk dan mencari pasar baru untuk memperluas jangkauan ekspor mereka.
Program pemerintah yang mendukung koperasi dan UKM untuk menembus pasar ekspor sangat penting untuk perekonomian Indonesia.
Dengan kualitas produk yang terus ditingkatkan dan sistem yang diperbaiki, diharapkan semakin banyak koperasi dan UKM yang dapat bersaing di pasar global.
Dukungan dari pemerintah, baik dalam bentuk kebijakan maupun program seperti Koperasi Desa Merah Putih, akan memberikan peluang lebih besar bagi produk-produk lokal untuk dikenal di seluruh dunia, sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia di pasar internasional.